Pagi-pagi mendung
Bangun kesiangan
Mandi pake air dingin
Kedinginan
Makan pagi porsinya kurang
Kelaparan
Usap-usap lambung
Baru menyadari kalau perutku menggendut
Karena kebanyakan makan
Berangkat
Sampai tempat yang dituju disuruh pulang
Putar arah
Di tengah perjalanan pulang disuruh balik lagi
Saturday, February 28, 2009
Monday, February 23, 2009
Miss me?
Aku tak bisa berpuisi
Kalau kamu yang jadi inspirasi
Aku tak bisa bernyanyi
Kalau suaramu ikut mengiringi
Aku minta kamu pergi
Dan jangan tinggalkan apapun selain jejak kaki
Jakarta, Februari 23rd 2009
It has been weeks, since...
Kalau kamu yang jadi inspirasi
Aku tak bisa bernyanyi
Kalau suaramu ikut mengiringi
Aku minta kamu pergi
Dan jangan tinggalkan apapun selain jejak kaki
Jakarta, Februari 23rd 2009
It has been weeks, since...
Saturday, February 7, 2009
Dibutuhkan: STUNTWOMAN
Berhubungan dengan kondisi saya yang sedang sakit sehingga buang ingus saja susah, saya sangat-sangat-sangat membutuhkan pemeran pengganti yang bisa menggantikan peran saya dalam melakukan hal-hal sebagai berikut:
Tolong bantuin saya ya...... Napas saya udah panas nih. Uapnya sampe bisa ngerebus telor kalkun (exaggerating).
Makasih banyak.
P.S: Yang ke-4 sama ke-5 itu bercanda kok......... Oh, udah tau ya kalau saya bercanda?
- Mengerjakan tugas-tugas dari subseksi
- Mengerjakan PR dari sekolah
- Belajar untuk ulangan yang menumpuk
- Shooting film terbarunya Lola Amaria yang tentang TKW itu, peran saya jadi salah satu TKW yang mau dipulangkan ke Indonesia
- Shooting video klip terbarunya Coldplay, peran saya jadi orang lalu-lalang di jalan raya
- Homo sapiens
- Perempuan
- Umur 13-15 tahun
- Mirip sedikit sama Kristen Stewart
- Rambut mirip bentuk helm
Tolong bantuin saya ya...... Napas saya udah panas nih. Uapnya sampe bisa ngerebus telor kalkun (exaggerating).
Makasih banyak.
P.S: Yang ke-4 sama ke-5 itu bercanda kok......... Oh, udah tau ya kalau saya bercanda?
Tuesday, February 3, 2009
Quick Update 3/2/09
Hello reader(s).
Thanks for reading this blog until this very moment.
I know, blog ini ngga ada apa-apanya jika dibandingkan dengan blog lain. Emang blog ini ngga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya, dan blog ini ngga gue jadikan diary pribadi yang isinya keluh-kesah gue. For your note only, blog ini secara pribadi gue jadikan timeline kehidupan gue untuk suatu saat gue baca lagi. Blog ini akan gue baca ulang dari post pertama sampai post terakhir. Tujuannya adalah, yaaaaa, sebagai pembelajaran dari masa lalu.
Cieeeeee gaya banget bahasanya.
Oh yeah, and, I don't think that personal blog should always be filled by personal dramas...... or so-called life. Others do, but I don't. So, welcome to my blog!
Belakangan ini gue disibukkan dengan kaderisasi subseksi OSIS, pekan ulangan, dan tugas-tugas yang kalau ditumpukin satu persatu bisa dingalahin ketinggian gunung Jaya Wijaya (ih lebay). Jadi sekali lagi maaf, gue jadi jarang ngupdate blog.
Sebenernya sih males, hehehe.
Thanks for reading this blog until this very moment.
I know, blog ini ngga ada apa-apanya jika dibandingkan dengan blog lain. Emang blog ini ngga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya, dan blog ini ngga gue jadikan diary pribadi yang isinya keluh-kesah gue. For your note only, blog ini secara pribadi gue jadikan timeline kehidupan gue untuk suatu saat gue baca lagi. Blog ini akan gue baca ulang dari post pertama sampai post terakhir. Tujuannya adalah, yaaaaa, sebagai pembelajaran dari masa lalu.
Cieeeeee gaya banget bahasanya.
Oh yeah, and, I don't think that personal blog should always be filled by personal dramas...... or so-called life. Others do, but I don't. So, welcome to my blog!
*****
Belakangan ini gue disibukkan dengan kaderisasi subseksi OSIS, pekan ulangan, dan tugas-tugas yang kalau ditumpukin satu persatu bisa dingalahin ketinggian gunung Jaya Wijaya (ih lebay). Jadi sekali lagi maaf, gue jadi jarang ngupdate blog.
Sebenernya sih males, hehehe.
*****
Kabar gue belakangan ini....... Baik. Tapi rada ngantuk, jadi, gue mau tidur dulu. Bye.
Sunday, January 25, 2009
I Love Them (part one)
Selamat pagi menjelang siang, pembaca blogku yang baik hati dan santun.
Apa kabar Anda pagi ini?
Semoga masih super dan masih dahsyat.
Dahsyat kan acaranya Olga Saputra ya...
Di post ini gue mau mendeskripsikan orang-orang yang punya tempat khusus di hati gue tanpa harus menyewa 12x cicilan perbulan terlebih dahulu. Tempatnya itu gue kasih gratis, terus mereka terima deh. Baik ya...
Nah, mari kita mulai dari orang ini,
VONNY
Vonny adalah orang yang gue kenal sejak kelas 8. Waktu pertama kali gue kenal dia, gue langsung heboh dan kesenengan, soalnya nama belakang dia Manuhutu. Manuhutu kan nama belakangnya artis Melly Manuhutu. Jadi gue seneng, soalnya bisa kenalan sama sepupunya artis.
Lama setelah berkenalan, gue mulai ngerasa kalau Vonny ini orangnya keibuan banget, dan bisa sabar sama anak kecil macam gue. Gue jadi ngerasa Vonny ini kakak gue di sekolah. Dia juga nerima-nerima aja gue jadi adek-adekannya. Jadi gue sejak saat itu ngikutin Vonny kemana-mana udah kayak anak ayam ngikutin induknya. Kasian Vonny gue ikutin terus, maaf ya Pon...
Vonny ini orangnya punya kesabaran tingkat tinggi. Saking sabarnya, sampai-sampai gue bingung sebenernya tingkat kesabaran dia ini setinggi apa, kok bisa sabar banget jadi orang. Suatu hari, gue pernah sms ke hpnya Vonny, niatnya mau cie-ciein Vonny yang waktu itu lagi dideketin sama seorang cowok. Ngga tahunya, itu nomor hp ibunya. Jadilah Vonny ditanya-tanyain dan dimarahin sama ibunya, gara-gara ibunya baca sms dari gue.
Besoknya, waktu gue tanya apakah Vonny marah sama gue atau ngga, jawabannya adalah "Ngga kok, gapapa Dyz, gue ga marah."
Dia jawabnya sambil senyum ke gue. Gue berasa lagi ngeliat seorang ibu yang lagi memaafkan anaknya yang habis mecahin guci Cina kesayangan ibunya. Gue makin ngerasa bersalah. Maaf lagi ya, Pon...
Di kelas 9 kita sekelas bareng. Waktu pertama kali gue tahu kita sekelas bareng, gue langsung lompat-lompat kayak anak kecil yang abis dikasih uang. Seriously. Gue lompat-lompat sambil berusaha menyetarakan tinggi badan gue dengan Vonny. Maklum, tinggi gue cuma sebahunya Vonny. Vonny tinggi banget orangnya. Cocok jadi model.
Di kelas 9 ini, gue, siswa termuda di sekolah gue saat itu, duduk semeja dengan Vonny, siswa tertua di sekolah. Waktu itu gue masih 12 tahun, dan Vonny udah 15 tahun. Beda jauh.
Selama gue berteman dengan Vonny, hal yang gue tahu adalah: Gue sangat merepotkan dia, tapi dia tetep sabar menghadapi gue yang merepotkan. Gue sayang Vonny, makasih ya Pon udah jadi kakak bagi gue, maaf gue sangat merepotkan lo, dan semoga lo baca blog ini, soalnya gue paling susah mengungkapkan perasaan gue didepan orangnya langsung. Yes, muka gue langsung memerah.
Nah, di kelas 9 dimana gue duduk semeja bareng Vonny inilah gue memulai perkenalan dengan,
SHERRY
Sherry ini adalah orang yang awalnya gue kira bernama Cherry. Setelah sekelas bareng, baru tahu kalau namanya itu Sherry, pake S. Gue kenalan sama Sherry untuk pertama kalinya dan secara resmi di hari pertama kelas 9 (sebelumnya gue cuma denger orang-orang nyapa namanya, "Hai, Cherry! Hai, Cherry!" dan dari situlah gue berasumsi kalau orang ini namanya Cherry).
Waktu pertama kali kita kenalan, gue memperkenalkan diri, "Gue Dyza,"
dan dia pun menjawab, "Hai, gue..... gue..... Aduh gue lupa nama gue siapa."
Gue langsung bingung, bingung sebenernya orang ini amnesia atau apa. Gue ketawa. Terus Vonny langsung bilang, "Kenalin ini namanya Sherry."
Gue mikir, "Ooooh, namanya pake S, ya...."
Terus Sherry ketawa.
Gue bingung lagi.
Setelah kenalan itu, gue jadi banyak ketawa, soalnya Sherry ini orangnya banyak lawakan. Terus orang ini, kalau ngomong suka pake bahasa Inggris. Jadi baguslah, sekalian kursus bahasa Inggris, gue kan udah 8 tahun ga pernah ikut kursus bahasa Inggris lagi. Dia juga berwawasan luas. Jadi kalau suatu saat gue ikutan kuis Who Wants To Be A Millionaire, orang pertama yang akan gue telepon untuk pilihan bantuan Call A Friend adalah Sherry. Tenang Sher, nanti gue bagi hadiahnya 55-45 kok.
Nah, pernah ada suatu kejadian yang bikin gue terkagum-kagum sama orang ini. Waktu kelas 9, gue dan dia jajan bareng ke kantin. Gue mau pesen chicken katsu ke mbaknya. Waktu itu kantinnya penuh banget, semua orang saling serobot, mbaknya bertransformasi jadi galak, dan parahnya, suara gue terlalu kecil untuk bisa didenger. Gue udah teriak dengan suara yang lebih terdengar seperti sedang merintih. Tetep ga kedengeran.
Tiba-tiba, jauh dari kerumunan itu, Sherry masuk dan teriak, "MBAK, CHICKEN KATSUNYA SATU YA, INI UDAH DARITADI!!!!" Suaranya kenceng banget kayak speaker masjid. Awalnya gue pikir Sherry ini mau mesen chicken katsu juga buat dirinya sendiri. Mbaknya langsung masak chicken katsu itu, and in a wink of an eye, chicken katsunya jadi. Gue kesel sama mbaknya, chicken katsu pesenan gue kok belum jadi-jadi juga. Gue teriak lagi, sekarang suara gue lebih kencengan. Eh, ternyata, chicken katsu yang dipesen Sherry tadi buat gue. Terharu.
Gue pulang ke kelas dengan jalan di belakang Sherry. Masih terkagum-kagum akan kejadian tadi. Gue berasa lagi ngeliatin punggungnya Edward Cullen yang baru nolongin gue dari hampir ketabrak van. Mata gue berkaca-kaca. Seneng soalnya chicken katsu gue akhirnya jadi juga. Seneng soalnya ga ketabrak van, alhamdulillah. Tapi juga seneng karena tadi dibantuin. Thanks ya Sher!
Sherry ini orangnya cepet ngambek, tapi cepet juga memaafkan orang yang bikin dia ngambek. Itu adalah hal yang bikin gue makin seneng deket-deket sama orang ini, tapi sekaligus bikin gue merasa bersalah karena gue udah sering bikin dia kesel. Maafkan ibu ya, nak....
Seperti yang pernah gue ceritakan di post-post sebelumnya, setelah setahun temenan, baru di SMA gue tahu kalau sebenernya gue dan Sherry ini sepupu jauh. ASIK! Akhirnya gue ada sodara di sekolah juga. Lumayan kan, kalau laper sehabis pulang sekolah, gue bisa mampir minta makan di rumah sodara dulu. Waktu gue di sms sama sepupu gue, kak Resti, kalau ternyata gue sepupuan sama Sherry, gue langsung lompat-lompat di kamar, terus smsnya gue tunjukin ke orang-orang rumah. Seriously.
Ng...... seperti yang tadi gue bilang di paragraf sebelumnya, gue malu kalau harus ngungkapin perasaan didepan orangnya langsung. Gue sayang Sherry, gue mau minta maaf karena sering bikin orang ini kesel, terus gue seneng soalnya gue sodaraan sama lo, hahaha tuh kan muka gue memerah lagi.
Apa kabar Anda pagi ini?
Semoga masih super dan masih dahsyat.
Dahsyat kan acaranya Olga Saputra ya...
Di post ini gue mau mendeskripsikan orang-orang yang punya tempat khusus di hati gue tanpa harus menyewa 12x cicilan perbulan terlebih dahulu. Tempatnya itu gue kasih gratis, terus mereka terima deh. Baik ya...
Nah, mari kita mulai dari orang ini,
VONNY
Vonny adalah orang yang gue kenal sejak kelas 8. Waktu pertama kali gue kenal dia, gue langsung heboh dan kesenengan, soalnya nama belakang dia Manuhutu. Manuhutu kan nama belakangnya artis Melly Manuhutu. Jadi gue seneng, soalnya bisa kenalan sama sepupunya artis.
Lama setelah berkenalan, gue mulai ngerasa kalau Vonny ini orangnya keibuan banget, dan bisa sabar sama anak kecil macam gue. Gue jadi ngerasa Vonny ini kakak gue di sekolah. Dia juga nerima-nerima aja gue jadi adek-adekannya. Jadi gue sejak saat itu ngikutin Vonny kemana-mana udah kayak anak ayam ngikutin induknya. Kasian Vonny gue ikutin terus, maaf ya Pon...
Vonny ini orangnya punya kesabaran tingkat tinggi. Saking sabarnya, sampai-sampai gue bingung sebenernya tingkat kesabaran dia ini setinggi apa, kok bisa sabar banget jadi orang. Suatu hari, gue pernah sms ke hpnya Vonny, niatnya mau cie-ciein Vonny yang waktu itu lagi dideketin sama seorang cowok. Ngga tahunya, itu nomor hp ibunya. Jadilah Vonny ditanya-tanyain dan dimarahin sama ibunya, gara-gara ibunya baca sms dari gue.
Besoknya, waktu gue tanya apakah Vonny marah sama gue atau ngga, jawabannya adalah "Ngga kok, gapapa Dyz, gue ga marah."
Dia jawabnya sambil senyum ke gue. Gue berasa lagi ngeliat seorang ibu yang lagi memaafkan anaknya yang habis mecahin guci Cina kesayangan ibunya. Gue makin ngerasa bersalah. Maaf lagi ya, Pon...
Di kelas 9 kita sekelas bareng. Waktu pertama kali gue tahu kita sekelas bareng, gue langsung lompat-lompat kayak anak kecil yang abis dikasih uang. Seriously. Gue lompat-lompat sambil berusaha menyetarakan tinggi badan gue dengan Vonny. Maklum, tinggi gue cuma sebahunya Vonny. Vonny tinggi banget orangnya. Cocok jadi model.
Di kelas 9 ini, gue, siswa termuda di sekolah gue saat itu, duduk semeja dengan Vonny, siswa tertua di sekolah. Waktu itu gue masih 12 tahun, dan Vonny udah 15 tahun. Beda jauh.
Selama gue berteman dengan Vonny, hal yang gue tahu adalah: Gue sangat merepotkan dia, tapi dia tetep sabar menghadapi gue yang merepotkan. Gue sayang Vonny, makasih ya Pon udah jadi kakak bagi gue, maaf gue sangat merepotkan lo, dan semoga lo baca blog ini, soalnya gue paling susah mengungkapkan perasaan gue didepan orangnya langsung. Yes, muka gue langsung memerah.
Nah, di kelas 9 dimana gue duduk semeja bareng Vonny inilah gue memulai perkenalan dengan,
SHERRY
Sherry ini adalah orang yang awalnya gue kira bernama Cherry. Setelah sekelas bareng, baru tahu kalau namanya itu Sherry, pake S. Gue kenalan sama Sherry untuk pertama kalinya dan secara resmi di hari pertama kelas 9 (sebelumnya gue cuma denger orang-orang nyapa namanya, "Hai, Cherry! Hai, Cherry!" dan dari situlah gue berasumsi kalau orang ini namanya Cherry).
Waktu pertama kali kita kenalan, gue memperkenalkan diri, "Gue Dyza,"
dan dia pun menjawab, "Hai, gue..... gue..... Aduh gue lupa nama gue siapa."
Gue langsung bingung, bingung sebenernya orang ini amnesia atau apa. Gue ketawa. Terus Vonny langsung bilang, "Kenalin ini namanya Sherry."
Gue mikir, "Ooooh, namanya pake S, ya...."
Terus Sherry ketawa.
Gue bingung lagi.
Setelah kenalan itu, gue jadi banyak ketawa, soalnya Sherry ini orangnya banyak lawakan. Terus orang ini, kalau ngomong suka pake bahasa Inggris. Jadi baguslah, sekalian kursus bahasa Inggris, gue kan udah 8 tahun ga pernah ikut kursus bahasa Inggris lagi. Dia juga berwawasan luas. Jadi kalau suatu saat gue ikutan kuis Who Wants To Be A Millionaire, orang pertama yang akan gue telepon untuk pilihan bantuan Call A Friend adalah Sherry. Tenang Sher, nanti gue bagi hadiahnya 55-45 kok.
Nah, pernah ada suatu kejadian yang bikin gue terkagum-kagum sama orang ini. Waktu kelas 9, gue dan dia jajan bareng ke kantin. Gue mau pesen chicken katsu ke mbaknya. Waktu itu kantinnya penuh banget, semua orang saling serobot, mbaknya bertransformasi jadi galak, dan parahnya, suara gue terlalu kecil untuk bisa didenger. Gue udah teriak dengan suara yang lebih terdengar seperti sedang merintih. Tetep ga kedengeran.
Tiba-tiba, jauh dari kerumunan itu, Sherry masuk dan teriak, "MBAK, CHICKEN KATSUNYA SATU YA, INI UDAH DARITADI!!!!" Suaranya kenceng banget kayak speaker masjid. Awalnya gue pikir Sherry ini mau mesen chicken katsu juga buat dirinya sendiri. Mbaknya langsung masak chicken katsu itu, and in a wink of an eye, chicken katsunya jadi. Gue kesel sama mbaknya, chicken katsu pesenan gue kok belum jadi-jadi juga. Gue teriak lagi, sekarang suara gue lebih kencengan. Eh, ternyata, chicken katsu yang dipesen Sherry tadi buat gue. Terharu.
Gue pulang ke kelas dengan jalan di belakang Sherry. Masih terkagum-kagum akan kejadian tadi. Gue berasa lagi ngeliatin punggungnya Edward Cullen yang baru nolongin gue dari hampir ketabrak van. Mata gue berkaca-kaca. Seneng soalnya chicken katsu gue akhirnya jadi juga. Seneng soalnya ga ketabrak van, alhamdulillah. Tapi juga seneng karena tadi dibantuin. Thanks ya Sher!
Sherry ini orangnya cepet ngambek, tapi cepet juga memaafkan orang yang bikin dia ngambek. Itu adalah hal yang bikin gue makin seneng deket-deket sama orang ini, tapi sekaligus bikin gue merasa bersalah karena gue udah sering bikin dia kesel. Maafkan ibu ya, nak....
Seperti yang pernah gue ceritakan di post-post sebelumnya, setelah setahun temenan, baru di SMA gue tahu kalau sebenernya gue dan Sherry ini sepupu jauh. ASIK! Akhirnya gue ada sodara di sekolah juga. Lumayan kan, kalau laper sehabis pulang sekolah, gue bisa mampir minta makan di rumah sodara dulu. Waktu gue di sms sama sepupu gue, kak Resti, kalau ternyata gue sepupuan sama Sherry, gue langsung lompat-lompat di kamar, terus smsnya gue tunjukin ke orang-orang rumah. Seriously.
Ng...... seperti yang tadi gue bilang di paragraf sebelumnya, gue malu kalau harus ngungkapin perasaan didepan orangnya langsung. Gue sayang Sherry, gue mau minta maaf karena sering bikin orang ini kesel, terus gue seneng soalnya gue sodaraan sama lo, hahaha tuh kan muka gue memerah lagi.
*****
Kenapa gue tulis di judul kalau post ini part one? Sebenernya gue masih mau ngelanjutin post ini, soalnya masih ada beberapa orang lagi yang punya tempat khusus di hati gue. Tapi........... gue mau main Word Challenge dulu, soalnya waktu gue baca notification Facebook gue ada tulisan ini:
Gue ga bisa diem aja. Harus main lagi!
This is Spartaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!
(apa sih kok gue ga jelas)
Sherry Almira Puspita has just beaten your all-time high score on Word Challenge. PLAY NOW to try and get her back! (2 minutes ago)
Gue ga bisa diem aja. Harus main lagi!
This is Spartaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!
(apa sih kok gue ga jelas)
Saturday, January 24, 2009
High Quality Jomblo of The Day
Siang tadi sepulang sekolah, seperti biasa gue dijemput oleh supir kesayangan keluarga yang bernama Pak Benten (nama asli disamarkan). Pak Benten adalah pria berumur mid-30 yang masih lajang, alias belum menikah. Pak Benten ini sudah bekerja untuk keluarga gue selama setahun, dan kami sangat percaya pada orang ini.
Selama perjalanan, gue dan Pak Benten berdiam diri dan membisu karena gue harus membiarkan Pak Benten fokus dengan kegiatan menyetirnya. Tiba-tiba, di radio muncul lagu "Hot 'N Cold"-nya Katy Perry. Gue langsung meraih sisir dari dalam laci mobil gue, dan mulai berlipsync. Dan kegiatan lipsync gue terinterupsi oleh pak supir, yang menanyakan hal ini:
Pak Benten: Dis, itu yang nyanyinya siapa ya?
Dyza: (kaget) Hah? Kenapa, pak?
Pak Benten: Itu, yang nyanyinya siapa ya?
Dyza: Oh, itu Katy Perry, pak.
Pak Benten: Oh, Ket....
Tiba-tiba, Pak Benten menerima telepon dari bos besar, alias mama gue.
Pak Benten: Iya bu, iya bu. Ini saya lagi nganterin Disa pulang. Iya bu, iya bu.
(telepon ditutup)
Dyza: Katy Perry, pak, namanya....
Pak Benten: Oh iya, Keti....
(hening sejenak)
Dyza: Kenapa, pak? Ngefans, ya? Hehehehe (ketawa kecil)
Pak Benten: Hehehehe (ketawa lebih kecil lagi)
Kemudian, suasana kembali seperti semula. Gue melanjutkan berlipsync ria, sementara Pak Benten bersiul-siul mengikuti irama lagu "Hot 'N Cold" yang masih belum selesai. Dia juga sedikit nyanyi di bagian reffnya.
Jadi, bagi Anda yang berminat untuk berkenalan dengannya, dan apabila Anda memenuhi kriteria sebagai berikut:
Homo sapiens,
Wanita,
Belum menikah,
Taat beragama,
Punya sedikit kemiripan dengan Katy Perry;
silakan hubungi saya, dan saya akan menghubungkan Anda dengan supir saya.
Terimakasih atas perhatiannya, sampai jumpa minggu depan.
Tetap sehat, tetap semangat, salam super!
Selama perjalanan, gue dan Pak Benten berdiam diri dan membisu karena gue harus membiarkan Pak Benten fokus dengan kegiatan menyetirnya. Tiba-tiba, di radio muncul lagu "Hot 'N Cold"-nya Katy Perry. Gue langsung meraih sisir dari dalam laci mobil gue, dan mulai berlipsync. Dan kegiatan lipsync gue terinterupsi oleh pak supir, yang menanyakan hal ini:
Pak Benten: Dis, itu yang nyanyinya siapa ya?
Dyza: (kaget) Hah? Kenapa, pak?
Pak Benten: Itu, yang nyanyinya siapa ya?
Dyza: Oh, itu Katy Perry, pak.
Pak Benten: Oh, Ket....
Tiba-tiba, Pak Benten menerima telepon dari bos besar, alias mama gue.
Pak Benten: Iya bu, iya bu. Ini saya lagi nganterin Disa pulang. Iya bu, iya bu.
(telepon ditutup)
Dyza: Katy Perry, pak, namanya....
Pak Benten: Oh iya, Keti....
(hening sejenak)
Dyza: Kenapa, pak? Ngefans, ya? Hehehehe (ketawa kecil)
Pak Benten: Hehehehe (ketawa lebih kecil lagi)
Kemudian, suasana kembali seperti semula. Gue melanjutkan berlipsync ria, sementara Pak Benten bersiul-siul mengikuti irama lagu "Hot 'N Cold" yang masih belum selesai. Dia juga sedikit nyanyi di bagian reffnya.
*****
Akhir kata, gue cuma mau bilang: Pak Benten supir gue itu masih lajang dan gaul, sukanya sama tipe-tipe wanita yang mirip Katy Perry gitu, orangnya asik, wawasannya luas, dan kemana-mana bawa mobil APV warna hitam (yang mana mobil APV ini adalah mobil gue, kan Pak Benten sopir gue, gimana sih).Jadi, bagi Anda yang berminat untuk berkenalan dengannya, dan apabila Anda memenuhi kriteria sebagai berikut:
Homo sapiens,
Wanita,
Belum menikah,
Taat beragama,
Punya sedikit kemiripan dengan Katy Perry;
silakan hubungi saya, dan saya akan menghubungkan Anda dengan supir saya.
Terimakasih atas perhatiannya, sampai jumpa minggu depan.
Tetap sehat, tetap semangat, salam super!
Friday, January 23, 2009
Kuch Kuch Hota Hai
Kuch Kuch Hota Hai adalah film India terbagus (yang lainnya jelek semua) yang pertama kali gue nonton ketika gue berumur 5 tahun. Gue udah nonton film ini sekitar 10 kali, dan gue ga bosen-bosen karena ceritanya lucu dan koreografinya bagus. Yak, ini dia sinopsisnya. Panjang dan membosankan. Feel bored to read this!
Cerita dimulai dengan adegan dimana ada seorang anak perempuan bernama Anjali yang mendapat hadiah sebuah surat dari mendiang ibunya, di hari ulangtahunnya yang ke-8. Dalam suratnya, sang ibu menceritakan kisah pertemuannya dengan ayah sang anak. Pertemuan itu terjadi bertahun-tahun yang lalu di sebuah universitas. Dan cerita pun kembali ke masa muda ayah dan ibu Anjali....
Kira-kira sepuluh tahun sebelum Anjali lahir, ayah Anjali, Rahul, bersekolah di sebuah universitas di Bombai, India. Rahul ini adalah pria yang paling disukai di kampusnya, dan memiliki seorang sahabat bernama Anjali. Anjali ini adalah seorang perempuan tomboi yang berdandan seperti anak laki-laki, dan hobi bermain basket. Rahul dan Anjali ini sangat akrab seperti saudara. Saking akrabnya, sampai-sampai Rahul tidak sadar kalau Anjali ini sebenarnya punya perasaan padanya.
Hingga suatu hari datanglah Tina, gadis India, anak rektor universitas yang baru pulang dari London, Inggris. Kepribadian Tina yang anggun dan cantik, sangat membedakan dirinya dengan gadis-gadis lain di universitas itu. Hal itulah yang membuat Rahul tertarik padanya.
Pada akhirnya, Rahul dan Tina menjalin hubungan, dan Anjali yang kecewa pun pindah ke kota lain. Bertahun-tahun kemudian, Rahul dan Tina menikah dan dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Anjali untuk mengenang sahabat mereka tersebut.
Terus kelanjutannya........ gue males ngetiknya. Abis filmnya kepanjangan sih, 3 jam. Silakan nonton sendiri, di TPI sering diulang kok filmnya.
*****
Cerita dimulai dengan adegan dimana ada seorang anak perempuan bernama Anjali yang mendapat hadiah sebuah surat dari mendiang ibunya, di hari ulangtahunnya yang ke-8. Dalam suratnya, sang ibu menceritakan kisah pertemuannya dengan ayah sang anak. Pertemuan itu terjadi bertahun-tahun yang lalu di sebuah universitas. Dan cerita pun kembali ke masa muda ayah dan ibu Anjali....
Kira-kira sepuluh tahun sebelum Anjali lahir, ayah Anjali, Rahul, bersekolah di sebuah universitas di Bombai, India. Rahul ini adalah pria yang paling disukai di kampusnya, dan memiliki seorang sahabat bernama Anjali. Anjali ini adalah seorang perempuan tomboi yang berdandan seperti anak laki-laki, dan hobi bermain basket. Rahul dan Anjali ini sangat akrab seperti saudara. Saking akrabnya, sampai-sampai Rahul tidak sadar kalau Anjali ini sebenarnya punya perasaan padanya.
Hingga suatu hari datanglah Tina, gadis India, anak rektor universitas yang baru pulang dari London, Inggris. Kepribadian Tina yang anggun dan cantik, sangat membedakan dirinya dengan gadis-gadis lain di universitas itu. Hal itulah yang membuat Rahul tertarik padanya.
Pada akhirnya, Rahul dan Tina menjalin hubungan, dan Anjali yang kecewa pun pindah ke kota lain. Bertahun-tahun kemudian, Rahul dan Tina menikah dan dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Anjali untuk mengenang sahabat mereka tersebut.
Terus kelanjutannya........ gue males ngetiknya. Abis filmnya kepanjangan sih, 3 jam. Silakan nonton sendiri, di TPI sering diulang kok filmnya.
*****
Favorite Scene
Favorite Scene
Subscribe to:
Posts (Atom)