Thursday, November 6, 2008

Check out their galleries!

Ya ampun...

Gue baru sadar kalau gue udah beberapa kali di tagged di galeri foto orang di Facebook, dan beberapa kali jadi model di galeri DeviantArt orang.

It's so stupid knowing that I shouldn't be tagged and my face shouldn't be published because I'm going to make your galleries look awful... and there will be no visitors come and see your galleries, I'm so sorry huhuhuhu...


Salah satu foto gue di gallery DeviantArt sepupu gue

I had no idea that my face was going to be published on the internet when my cousin took this picture last year..




Wajahku mengerikan. Tapi masih lucu.

Check them out!!!!!!

Kak Karina's DeviantArt gallery
Teh Anggi's DeviantArt gallery


A link to my gallery? I don't have one, 'cause I already have you (CUIH!)

Awake

Ketika malam tiba
Hingga pagi menyapa
Aku tetap terjaga
Menunggu keberadaanmu sirna

Kelabu

Semula jingga menjadi kelabu
Semula ramai menjadi hanya aku
Semula stabil menjadi sangat labil
Semula hak menjadi batil
Semula tenang menjadi beriak
Semula diam menjadi teriak

Tak bisa ditahan apa yang dirasa
Kudiamkan saja hingga sirna

Angan terbang tertiup angin
Impian hilang bersama ingin

Sunday, November 2, 2008

Saman

Buat gue, tari Saman merupakan pelarian dari seluruh penat gue selama seminggu sekolah. Oasis di tengah padang pasir gue. Hujan di tengah hari panas. Beneran deh. Gue selalu pulang ke rumah dalam keadaan senang setiap kali gue selesai latihan ekskul tari Saman di sekolah. Kalau suatu saat gue gagal dalam seluruh pelajaran sekolah, cuma tari Saman satu-satunya harapan gue untuk bisa bertahan di sekolah. Eventhough, I'm not good at dancing, and though I don't remember half of my dancemates' names, gue sangat suka tari Saman.

Dari SMP, gue pengen banget bisa nari Saman. Gue cuma bisa memperhatikan beberapa anak perempuan latihan Saman di Mushalla sekolah. Memperhatikan dan berharap. Berharap bisa melakukan apa yang mereka lakukan.

And in High School, when I was offered the chance, I got so many questions to be answered.
Gimana kalau gue ga bisa nari?
Gimana kalau gue tiba-tiba berhenti di tengah jalan?
Gimana kalau kakak-kakaknya ternyata galak?
Gimana kalau ternyata gue ga cocok sama temen-temen narinya?
Gimana kalau ternyata cuma gue yang berminat ikut ekskul tari Saman di angkatan ini?

Saat itu adalah detik-detik sebelum istirahat kedua, dimana semua anak yang berminat ikut eksul Saman harus berkumpul di suatu kelas. Gue benar-benar memikirkan tentang kesempatan ini. Ambil atau lepas?

Istirahat kedua, gue memberanikan diri melangkah ke kelas XI IPA F, bersama temen sebangku gue, Golda, yang gue ajak (actually, I kinda begging her) untuk ikut Saman. Ternyata disana banyak anak-anak yang berminat. Perempuan semua (well, what do you expect???). Dan untungnya ada beberapa temen gue yang cukup gue kenal yang ikut Saman. Mungkin gue ga akan menemui banyak kesusahan dalam hal beradaptasi ini.

Sekarang, setelah beberapa bulan gue ikut ekskul ini, gue sangat bersyukur karena gue punya pelarian dari segala stres di sekolah. Ga sia-sia gue ngambil kesempatan ini waktu itu. Meskipun sampai sekarang gerakan gue masih kaku, masih belum bener, dan gue baru kenal setengah dari temen-temen nari gue. Untung gue ngambil kesempatan itu.

Harapan gue untuk hari-hari selanjutnya di kehidupan gue dalam menari Saman, adalah: semoga gerakan tari gue lebih luwes dan ga kaku lagi, semoga gue bisa mengenal lebih baik temen-temen ekskul Saman angkatan gue, karena bersama merekalah gue akan menari bersama selama 3 tahun, karena ga mungkin ada kekompakan dan kerjasama dalam menari kalau kita ga kenal satu sama lain, dan semoga suatu saat gue dapat menghasilkan uang lewat karir gue sebagai penari Saman (kata Mama: "APA?! Mama sekolahin kamu SD-SMP-SMA tuh bukan buat jadi penari tau!" hehe ampun ma)


Cheers.


P.S: Ternyata kakak-kakaknya ga galak loh, hahaha. Mereka sabar banget bantuin gue yang kerjanya cuma memperlambat kemajuan kelompok nari gue HAHA jadi malu :P

Fred

YA AMPUN! Ini orang apa bukan? Lucu bangetttttttttttttttt!!
Gue sangat sangat pengen ketemu Fred Figglehorn!
He's so cute and adorable!





Fred as a tree


Fred itu cowok berbadan remaja yang (mengaku) berumur 6 tahun, masih bersekolah di TK, dan suaranya sangat cempreng. Anak yang ambisius dan sedikit over-reacting ini punya ibu yang suka mabuk-mabukan dan suka bolak-balik masuk rehabilitasi. Dia punya temen penyanyi hip-hop gitu namanya Kevin Blaze. Cuma satu kata yang bisa mendeskripsikan Fred: LUCUUUUUU!



I found him on Youtube.


Link to Fred's videos: CLICK HERE!

Saturday, November 1, 2008

Oma Ga Suka Kucing

Nenek atau Oma gue sangat ga suka kucing.
Entah kenapa.
Berikut adalah percakapan gue dengan Oma yang membuat gue pengen nulis post tentang ini.

Setting : Di meja makan, ada gue, Oma, Tante Yuni, dan Ghiffa. Kita lagi ngobrol tentang betapa Ghiffa ga mau makan, sampai tiba-tiba ada kucing kampung lewat di samping Oma.

Oma : EH! ADA KUCING! HUSH HUSH HUSH!
Dyza : .....
Oma : Mana kucingnya jelek lagi!
Dyza : .....emangnya kalau kucingnya cantik ga bakal Oma usir?
Oma : .....yaaaa, Oma usir juga, hehehe...
Dyza : Loh? Hahaha....

Absurd memang.

Olahraga? Pathetic.

Seumur hidup baru sekali gue bercita-cita buat jadi atlitwati. Yaitu jadi petinju. Petinju loh... Yang seneng mukul-mukul orang gitu. Ya ampun. It's so FA-TE-TIK.

Ah... Kenapa coba harus ada pelajaran OLAHRAGA di dunia ini? Buat yang ga tau olahraga itu apa.. Olahraga itu adalah sejenis makanan yang rasanya asem kecut kecut gitu.. Ya nggalah.. Olahraga itu pelajaran mengenaskan yang senengnya mengolah raga kita. Buat gue sih lebih ke olah rangka ya, bukannya olah raga..

Dari dulu ya, gue selalu aja jadi yang paling belakang kalau lari keliling lapangan. Selalu jadi yang paling pasif kalau lagi tanding kasti di SD. Selalu jadi yang paling pasif kalau main basket. Selalu jadi yang paling pasif kalau main sepakbola. Dan selalu remed kalau lagi ambil nilai olahraga. FATETIK!

Dan gue sering banget cedera gara-gara olahraga.
Contohnya ini ya:

Hari Jumat, tanggal 31 Oktober 2008. Hari itu adalah hari dimana kelas gue ngambil nilai untuk lompat tinggi. You know? Lompat tinggi adalah bidang olahraga dimana kita harus melompati tiang yang tinggi dan ga boleh jatuh kena tiang itu.

Tiang Pertama
Ketinggian : 60 cm
Temen-temen sekelas gue berhasil melaluinya. Dan gue, dengan sukses gue lompat pantat duluan udah gitu jatuh BRUK nindih tiang. PINTER BANGET. Kata guru gue, Pak Gatot, seharusnya gue jangan lompat pake pantat duluan. Lompat ya harus pake kaki, bukan pake pantat. Ingat, bukan pake pantat! Dan gue dikasih kesempatan kedua buat nyoba di tiang 90cm, karna yang 60cm ini cuma buat latihan doang.

Tiang Kedua
Ketinggian : 90 cm
Banyak yang bisa lompatin tiangnya, tapi banyak juga yang gagal. Dan gue gagal lagi. Dengan sempurnanya, gue melompat dengan pantat duluan. Dan dengan suksesnya, tangan gue tertindih oleh tiang yang mana tiangnya ditindih oleh gue. Jadi, dengan suksesnya lagi, aliran darah di bagian tangan gue yang ketindihan tiang tadi itu jadi ga lancar. Buat yang belum pernah ngerasain tangan ketindihan tiang yang ketindih oleh badan anak perempuan seberat 45 kilogram, inilah rasanya: sakit. Tapi lebih baik sakit begini daripada sakit hati (APASIH). Dan tangan gue pun perlahan-lahan membengkak. Tadinya sih gue biarin aja. Terus temen-temen gue pada heboh gitu, katanya bahaya tangan gue kalau didiemin gitu aja. Akhirnya salah satu temen gue yang bernama Dini manggil Pak Gatot dan melaporkan kecelakaan yang baru aja gue alami. Terus sama Pak Gatot tangan gue yang bengkak itu dipijit biar aliran darahnya lancar. Ternyata tangan gue lebih sakit pas dipijit dari pada pas jatuhnya. Dan lebih ga enak dipijit Pak Gatot daripada dipijit Brad Pitt. Ga enak banget.

Setelah dua tiang itu, gue ga ikut lompat di tiang-tiang berikutnya dengan ketinggian yang bertambah, karna memang sudah kodratnya orang-orang yang gagal untuk menyaksikan kemenangan orang-orang yang berhasil. Fatetik.

Dan masih banyak cedera yang disebabkan oleh olahraga selain cedera yang satu ini.
I'm so not good at sports.